Bergerak Bersama Musik dan Kemanusiaan, Promo Tour EP INOSA Hidupkan Ruang Kreatif di Taiganja


MEDIA KAILI – Malam di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Taiganja, Desa Kalukubula, Jumat (19/6/2026), terasa berbeda. Di bawah langit yang teduh, alunan petikan karambangan berpadu dengan semangat musik metal, tarian kontemporer, puisi, hingga aksi kemanusiaan. Semuanya menyatu dalam gelaran Promo Tour EP INOSA 2026 yang digagas CIKStudio sebagai bentuk dukungan terhadap karya musisi lokal Sulawesi Tengah.


Mengusung tema “Bergerak, Tumbuh, dan Sinergi”, CIKStudio yang berbasis di Kabupaten Sigi Desa Kabobona hadir sebagai label rekaman yang tidak hanya berfokus pada produksi musik, tetapi juga membangun ruang pertemuan antara musisi, seniman, komunitas, dan masyarakat.


Melalui program ini, CIKStudio mendukung promosi mini album “NOL (No One Lost)” milik band metal asal Kota Palu, INOSA, yang resmi dirilis pada 15 Mei 2026 di berbagai platform digital. Sebulan setelah peluncuran album tersebut, promosi secara langsung dinilai penting untuk memperkenalkan karya kepada publik yang lebih luas.


Tidak sekadar menghadirkan pertunjukan musik metal, Promo Tour EP INOSA menjadi panggung kolaborasi lintas seni. Tradisi bela diri Kontau, tari kontemporer, pembacaan puisi, hingga musik karambangan tampil berdampingan, menciptakan suasana yang hangat dan inklusif.


Album NOL (No One Lost) sendiri memuat enam lagu, yakni Rise Up, Satu Lawan Sembilan, Antek Global, Primitive, Rusak Parah, dan NOL 1980. Lagu-lagu tersebut menjadi representasi keresahan sosial yang dikemas melalui energi musik cadas khas INOSA.


Sejak sore hari, para pengunjung mulai memadati area RTH Taiganja. Mereka tidak hanya datang untuk menyaksikan pertunjukan musik, tetapi juga menikmati suguhan kopi dan nasi kuning gratis yang disediakan panitia.



Acara dibuka dengan penampilan Karambangan of Celebes yang membawakan karambangan khas lindu. Petikan suara gitar akustik bernuansa tradisional itu menghadirkan suasana damai sebelum rangkaian acara berlanjut dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan pembacaan doa oleh Moh. Rizal Fahmi, S.Pd.


Selanjutnya, panggung diisi penampilan memukau dari Sanggar Tari Randa Lino yang menghadirkan gerak-gerak kontemporer penuh ekspresi. Bengkel Seni Pitate kemudian melanjutkan suasana dengan pembacaan karya puisi yang mengajak penonton merenungkan berbagai persoalan sosial dan kemanusiaan.


Puncak acara tiba saat INOSA naik ke atas panggung. Sorak penonton pecah ketika lagu “Rusak Parah” dimainkan sebagai pembuka. Energi yang dibangun sejak awal langsung menghidupkan suasana malam itu.


Salah satu momen yang paling menarik perhatian terjadi saat lagu “Satu Lawan Sembilan” dan “Rise Up” dibawakan. Pada dua lagu tersebut, INOSA berkolaborasi dengan Perguruan Kontau Lauro Malanda yang menampilkan gerakan silat kontau secara langsung di depan panggung. Perpaduan dentuman musik metal dan seni bela diri tradisional menghadirkan pertunjukan yang unik sekaligus memperlihatkan bahwa budaya lokal dapat berjalan beriringan dengan musik modern.


Menurut Herman atau yang akrab disapa Ciks, Direktur CIKStudio sekaligus promotor acara, alasan pihaknya menggandeng INOSA karena ingin memberikan ruang bagi musisi lokal untuk terus berkembang.


"Kami percaya musik lokal memiliki kualitas dan identitas yang kuat. Karena itu, CIKStudio berkomitmen membuka ruang kolaborasi dan mendorong band-band lokal agar terus berkarya dan berkembang," ungkapnya.



Dalam sesi wawancara, personel INOSA yang hadir bersama produser Ans Nome memperkenalkan formasi mereka, yakni Papamedz sebagai vokalis dan bassis, MR Gamz sebagai gitaris sekaligus vokal latar, serta Hermanto sebagai gitaris.


Papamedz menceritakan perjalanan panjang band tersebut yang berawal dari berbagai festival musik dan beberapa kali mengalami pergantian personel.


"INOSA dalam bahasa Kaili berarti bernapas. Kami memilih nama itu karena ingin setiap karya yang kami lahirkan terus hidup, mengalir, dan bertahan melintasi waktu, sebagaimana napas yang menjadi sumber kehidupan manusia," tutur Papamedz.


Tak hanya menghadirkan hiburan, acara ini juga membawa pesan kemanusiaan. Panitia membuka penggalangan dana bagi korban gempa yang mengguncang Kabupaten Sigi pada 16 Juni 2026. Dari aksi solidaritas tersebut terkumpul dana sebesar Rp373.500 yang akan disalurkan kepada masyarakat terdampak bencana.



Semangat kepedulian juga terlihat melalui program adopsi bibit tanaman cabai. Sebanyak 200 bibit cabai yang dibagikan kepada pengunjung habis dibawa pulang. Antusiasme itu menunjukkan bahwa kegiatan kreatif dapat berjalan beriringan dengan kampanye lingkungan.


Kesuksesan acara ini tidak lepas dari dukungan berbagai pihak, di antaranya Baruga Grup, Kaos Bumi, HBF, Qperty, Kopi Anak Deker, LYSA Sound, DKS, SIGI Beans, Kontau Lauro Malanda, Randa Lino, Karambangan of Celebes, dan MHD Sinema.


Lebih dari sekadar konser, Promo Tour EP INOSA 2026 menjadi bukti bahwa musik dapat menjadi jembatan yang mempertemukan berbagai ekspresi seni, kepedulian sosial, dan semangat kolaborasi. Di tengah dentuman musik metal yang keras, malam itu justru lahir pesan yang sederhana yakni bergerak bersama, tumbuh bersama, dan bersinergi untuk menghidupkan ekosistem kreatif Sulawesi Tengah.





Penulis: Azwar Anas


Post a Comment

To be published, comments must be reviewed by the administrator *

Lebih baru Lebih lama