Bagian I – Ketika Sebuah Nyanyian Menghilang
Oleh: Azwar Anas
Ada suara yang tidak pernah benar-benar hilang dari ingatan, meskipun puluhan tahun telah berlalu. Suara itu tidak direkam dalam kaset, tidak tersimpan dalam telepon genggam, apalagi diunggah ke media sosial. Ia hanya hidup dalam kenangan seorang anak kecil yang setiap malam diayun oleh neneknya sambil didendangkan syair-syair tua berbahasa Kaili.
Saya masih mengingatnya dengan sangat jelas. Saat itu usia saya sekitar lima tahun. Menjelang tidur, nenek membaringkan saya di atas ayunan kain yang digantung di dalam rumah. Tidak ada musik yang mengiringi. Tidak ada alat musik yang dipetik ataupun ditiup. Yang terdengar hanyalah suara nenek yang perlahan melantunkan Nompaova, tradisi vokal pengantar tidur masyarakat Kaili subetnis Ledo.
Syair-syairnya sederhana, tetapi terasa hangat. Nadanya tenang. Irama suaranya mengikuti gerak ayunan yang perlahan mengantar mata terpejam. Saya belum memahami makna setiap kata yang diucapkan nenek. Namun entah mengapa, setiap bait selalu menghadirkan rasa aman.
Tradisi itu berlangsung bertahun-tahun di rumah kami. Setelah saya, adik kedua, ketiga, hingga adik keempat juga menikmati lagu yang sama. Nenek menjadi penjaga sebuah pengetahuan yang diwariskan secara lisan dari generasi sebelumnya.
Namun semuanya berubah ketika adik terakhir lahir. Nenek telah lebih dahulu berpulang. Bersamanya ikut pergi kemampuan melantunkan Nompaova. Keahlian itu ternyata tidak sempat diwariskan kepada ibu kami. Sejak saat itu, rumah kami tak lagi dipenuhi syair-syair tua yang dahulu begitu akrab setiap malam.
Saya tumbuh dewasa bersama sebuah kerinduan yang sulit dijelaskan. Berkali-kali saya mencoba mencari kembali lagu itu. Bertanya kepada orang-orang tua, mendengar berbagai pertunjukan budaya, hingga mencari rekaman di internet. Namun Nompaova yang pernah mengisi masa kecil saya seolah ikut menghilang bersama waktu.
Barulah beberapa waktu lalu kerinduan itu menemukan secercah harapan. Seorang sahabat mengirimkan sebuah artikel mengenai Eksplorasi Musik Komunal (Etnis Kaili). Awalnya saya mengira itu hanya program dokumentasi musik seperti yang pernah dilakukan banyak peneliti sebelumnya. Namun setelah membaca lebih jauh, saya menyadari bahwa program ini sedang mengerjakan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar merekam lagu.
Program tersebut sedang berusaha menyelamatkan ingatan. Bagi banyak orang, musik tradisi mungkin hanya dipahami sebagai lagu lama atau pertunjukan kesenian daerah. Padahal, bagi masyarakat adat, musik adalah bagian dari kehidupan itu sendiri.
Ia hadir ketika seorang bayi ditidurkan.Ia mengiringi pesta panen. Ia menjadi teman bekerja di ladang. Ia hadir dalam upacara adat. Ia menjadi doa, nasihat, hiburan, bahkan penanda perjalanan hidup seseorang.
Ketika sebuah lagu tidak lagi dinyanyikan, sesungguhnya yang hilang bukan hanya rangkaian nada. Bersamanya ikut memudar bahasa, pengetahuan, nilai kehidupan, bahkan cara sebuah masyarakat memandang alam dan sesamanya.
Kesadaran itulah yang melahirkan Program Eksplorasi Musik Komunal (Etnis Kaili), sebuah program pendokumentasian pengetahuan musik tradisi masyarakat Kaili yang digagas Ketua DPC PAPPRI Kabupaten Sigi, Yudhi Nugraha, sebagai penerima manfaat Dana Indonesiana – Pemanfaatan Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan Tahun 2025. Program ini bertujuan merekam pengetahuan para maestro melalui eksplorasi lapangan, dokumentasi audio visual, penulisan, serta forum diseminasi pengetahuan sehingga hasilnya dapat kembali dimanfaatkan oleh masyarakat.
Program tersebut tidak berhenti pada dokumentasi bunyi atau lagu. Yang direkam justru seluruh kehidupan yang melingkupi musik itu sendiri yakni sejarahnya, fungsi sosialnya, nilai budaya yang dikandungnya, proses pewarisannya, bahasa yang digunakan, hubungan dengan lingkungan hidup, hingga perubahan-perubahan yang terjadi di dalam komunitas pendukungnya.
Ketika ditemui dibeberapa kesempatan diskusi, Yudhi Nugraha mengaku bahwa gagasan tersebut lahir dari kegelisahan yang sebenarnya sangat sederhana.
Ia melihat semakin sedikit anak-anak Kaili yang mengenal lagu-lagu yang dahulu begitu akrab di telinga orang tua mereka. Suara-suara yang pernah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari perlahan menghilang.
Lagu-lagu lama semakin jarang dinyanyikan. Pola tabuhan mulai terlupakan. Nama-nama instrumen tradisional tidak lagi dikenal oleh generasi muda.
Di sisi lain, para maestro yang selama puluhan tahun menjadi penyimpan utama pengetahuan musik tradisi satu per satu memasuki usia senja. Sebagian besar dari mereka mewarisi tradisi secara lisan. Tidak ada buku. Tidak ada partitur. Tidak ada rekaman.
Jika mereka pergi tanpa sempat mewariskan ilmunya, maka yang ikut hilang bukan hanya sebuah lagu, tetapi keseluruhan pengetahuan yang menyertainya.
"Banyak orang mengira dokumentasi musik cukup dilakukan dengan merekam pertunjukannya, padahal yang jauh lebih penting adalah mendokumentasikan pengetahuan yang ada di balik pertunjukan itu," ujar Yudhi.
Karena itulah, proses eksplorasi tidak dilakukan seperti produksi rekaman biasa. Tim mendatangi rumah-rumah maestro. Mereka mendengar cerita masa kecil para pelaku tradisi. Mencatat bagaimana lagu diwariskan. Mengamati bagaimana instrumen dibuat. Merekam istilah-istilah lokal yang mulai jarang digunakan. Bahkan mendokumentasikan ruang-ruang tempat musik itu dahulu hidup.
Pendekatan ini dikenal sebagai Music Edukalcer, sebuah kerangka yang memandang musik bukan semata karya seni, melainkan media pendidikan, budaya, dan regenerasi pengetahuan antargenerasi.
Di atas kertas, tujuan program ini terdengar sederhana. Mendokumentasikan pengetahuan musik tradisi masyarakat Kaili. Mengidentifikasi kondisi aktual setiap tradisi. Merekam proses pewarisan yang masih berlangsung. Menghasilkan dokumentasi audio, video, foto, dan naskah.
Menyusun rekomendasi pelindungan dan pengembangan musik tradisi Kaili. Namun sesungguhnya, pekerjaan yang dilakukan jauh lebih dalam daripada itu.
Program ini sedang berusaha menyelamatkan sesuatu yang tak terlihat. Ingatan. Sebab setiap lagu tradisional adalah arsip kehidupan masyarakat yang tidak pernah ditulis di atas kertas. Ia hidup di kepala para maestro, di lidah para penyanyi tua, di tangan para pemain alat musik, dan di hati masyarakat yang selama puluhan tahun menjadikannya bagian dari kehidupan sehari-hari.
Mungkin itulah sebabnya saya kembali teringat pada suara nenek. Kini saya memahami bahwa yang saya rindukan selama ini ternyata bukan sekadar melodi Nompaova.
Yang saya rindukan adalah sebuah pengetahuan yang pernah hidup di dalam keluarga kami. Dan mungkin, ribuan keluarga Kaili lainnya juga menyimpan kerinduan yang sama. Kerinduan terhadap suara-suara lama yang perlahan menghilang bersama waktu.
Bagian II – Menelusuri Rumah-Rumah Para Maestro
Perjalanan mendokumentasikan musik tradisi sesungguhnya bukan dimulai dari ruang rekaman yang dipenuhi mikrofon mahal atau kamera berteknologi tinggi. Ia justru dimulai dari jalan-jalan desa yang sunyi, rumah-rumah panggung sederhana, serta percakapan panjang bersama para orang tua yang selama puluhan tahun menyimpan pengetahuan di dalam ingatan mereka. Begitulah cara Program Eksplorasi Musik Komunal (Etnis Kaili) bekerja.
Alih-alih mengundang para maestro datang ke kota, tim eksplorasi memilih mendatangi mereka. Sebab pengetahuan musik tradisi tidak pernah hidup terpisah dari ruang tempat ia dilahirkan. Setiap lagu memiliki lanskapnya sendiri. Setiap bunyi lahir dari lingkungan yang membentuknya.
Di situlah letak perbedaan mendasar program ini.Yang didokumentasikan bukan hanya lagu, melainkan kehidupan yang menghidupkan lagu tersebut.
Pendekatan ini sejalan dengan filosofi program, "Menjaga Bunyi, Merawat Ingatan." Sebuah keyakinan bahwa setiap bunyi yang diwariskan antargenerasi bukan sekadar rangkaian nada, melainkan menyimpan pengalaman hidup, bahasa, pengetahuan lokal, hingga nilai-nilai yang membentuk identitas masyarakat. Karena itu, dokumentasi dipahami sebagai upaya membuka ruang agar pengetahuan tersebut dapat terus dipelajari dan diwariskan, bukan sekadar disimpan sebagai arsip.
Melalui pendekatan Music Edukalcer akronim dari Music, Education, Culture, dan Regeneration, musik dipandang sebagai media pendidikan budaya dan sarana regenerasi. Setiap objek eksplorasi dipelajari melalui sejarahnya, fungsi sosialnya, proses pewarisannya, teknik permainan, hingga perubahan yang memengaruhi keberlangsungan tradisi tersebut.
Selama proses eksplorasi, tim tidak berupaya mencatat seluruh bentuk musik tradisi Kaili. Pilihan itu hampir mustahil dilakukan mengingat luasnya wilayah dan keragaman subetnis Kaili.
Sebagai gantinya, dipilih enam objek yang dianggap mampu menggambarkan keberagaman ekspresi musikal masyarakat Kaili.
Di Kabupaten Sigi terdapat Nompaova (Toi Ndu), tradisi vokal pengantar tidur masyarakat Kaili Ledo; Musik Bambu Uwemanje, ansambel bambu khas Kaili Da'a; dan Karambangan Kaili, musik vokal dengan iringan petikan. Di Desa Powelua didokumentasikan Lalove Hidung, instrumen tiup tradisional masyarakat Kaili Unde.
Sementara di Kabupaten Donggala terdapat Dadendate Taripa, tradisi vokal bertutur masyarakat Kaili Rai. Adapun Kabupaten Parigi Moutong menjadi lokasi eksplorasi Gamba-gamba, ansambel perkusi tradisional masyarakat Kaili Tara. Keenam objek tersebut dipilih bukan untuk mewakili seluruh musik tradisi Kaili, melainkan menggambarkan keragaman praktik musikal yang masih hidup di komunitas pendukungnya.
Namun, di antara seluruh perjalanan itu, ada satu desa yang meninggalkan kesan mendalam. Desa Taripa.
Di Rumah Para Penjaga Dadendate
Mei 2026. Matahari mulai condong ketika tim eksplorasi memasuki Desa Taripa, Kecamatan Sindue, Kabupaten Donggala.
Suasana desa terasa tenang. Pepohonan tua berdiri di sepanjang jalan, sementara angin sesekali membawa aroma laut yang tak begitu jauh dari permukiman warga. Di salah satu rumah sederhana itulah tinggal para penjaga Dadendate.
Bagi masyarakat Kaili Rai, Dadendate bukan sekadar lagu. Ia adalah tradisi bertutur. Di dalam syair-syairnya tersimpan nasihat, pengalaman hidup, kisah perjalanan manusia, hingga nilai-nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Tradisi itu selama puluhan tahun hidup melalui ingatan. Bukan buku. Bukan catatan. Melainkan hafalan para maestro.
Di halaman rumah itulah tim bertemu Bapak Alimusu (64), pemain kacapi yang menjadi pengiring utama Dadendate. Di sampingnya duduk Ibu Sumalia (66), penyanyi yang masih mengingat bait-bait lagu lama.
Sementara di sisi lain, Bapak Maojudin (58) menyiapkan mbasi-mbasi, instrumen tiup tradisional yang melengkapi suasana pertunjukan.
Tidak ada panggung. Tidak ada tata cahaya. Tidak ada tepuk tangan penonton. Yang ada hanyalah tiga orang yang sedang berusaha menjaga agar ingatan sebuah masyarakat tidak ikut menghilang.
Sesekali mereka saling mengingatkan potongan syair yang hampir terlupa. Kadang mereka berhenti beberapa menit hanya untuk memastikan satu kata yang dahulu sering dinyanyikan.
Proses itulah yang justru menjadi bagian penting dari dokumentasi. Sebab yang direkam bukan hanya lagu yang masih utuh, tetapi juga jejak-jejak ingatan yang sedang berusaha dipertahankan.
Hasil eksplorasi menunjukkan kenyataan yang cukup memprihatinkan. Menurut penuturan para maestro, dahulu masyarakat mengenal sekitar 24 lagu Dadendate. Kini hanya sekitar tujuh lagu yang masih dapat dinyanyikan secara utuh. Bukan karena lagu-lagu lainnya tidak penting, melainkan karena semakin sedikit ruang pewarisan yang memungkinkan generasi muda mempelajarinya secara langsung.
Meski demikian, optimisme belum sepenuhnya padam. Di sela-sela wawancara lapangan pada Mei 2026, Bapak Alimusu bersama kelompok Dadendate menyampaikan harapan yang sederhana, tetapi menyentuh.
Harapan kami, semoga lagu-lagu Dadendate yang masih kami ingat hari ini tidak berhenti pada generasi kami.
Kalimat itu diucapkan perlahan, seolah mewakili kegelisahan banyak maestro musik tradisi di berbagai daerah.
Lalu mereka melanjutkan,
Dulu masih banyak lagu yang dikenal masyarakat, tetapi sekarang hanya sebagian yang masih dapat kami nyanyikan.
Harapan terbesar mereka bukanlah panggung yang megah ataupun popularitas. Yang mereka inginkan jauh lebih sederhana.
Melalui dokumentasi ini, kami berharap anak-anak dan cucu-cucu kami dapat kembali belajar, mengenal, dan meneruskan tradisi Dadendate agar tetap hidup di tengah masyarakat.
Kalimat itu membuat suasana rumah mendadak hening. Sebab yang sedang dibicarakan bukan hanya tentang lagu. Melainkan tentang keberlanjutan sebuah ingatan. Tentang warisan yang selama ini hanya berpindah dari mulut ke mulut.
Tentang harapan agar suatu hari nanti, seorang anak di Taripa masih dapat mendengar syair Dadendate, sebagaimana dahulu para leluhurnya mendengarkannya.
Dan bagi tim Eksplorasi Musik Komunal, momen-momen seperti itulah yang sesungguhnya paling berharga. Bukan ketika kamera mulai merekam. Melainkan ketika para maestro mulai membuka ingatan mereka. Sebab setiap cerita yang keluar dari bibir mereka adalah bagian dari sejarah yang belum pernah dituliskan.
Bagian III – Ketika Generasi Muda Memilih Menjadi Pewaris
Jika para maestro adalah penjaga ingatan, maka generasi mudalah yang akan menentukan apakah ingatan itu akan tetap hidup atau berhenti menjadi kenangan.
Pertanyaan itulah yang terus menyertai perjalanan Program Eksplorasi Musik Komunal selama berbulan-bulan menelusuri berbagai wilayah persebaran masyarakat Kaili. Sebab setiap kali tim bertemu seorang maestro, pertanyaan yang hampir selalu muncul bukanlah seberapa banyak lagu yang masih mereka hafal, melainkan satu hal yang jauh lebih penting.
Masih adakah yang mau belajar?
Pertanyaan itu terdengar sederhana. Namun di baliknya tersimpan kegelisahan yang sama di hampir semua komunitas musik tradisi.
Banyak maestro masih mampu memainkan alat musik mereka. Masih hafal syair-syair lama. Masih mengingat nama-nama pola tabuhan.
Tetapi orang yang bersedia duduk berjam-jam mendengarkan, mencatat, lalu mempelajarinya, semakin sedikit. Modernisasi bukanlah musuh. Perubahan zaman juga bukan sesuatu yang harus ditolak. Namun ketika ruang pewarisan semakin sempit, tradisi perlahan kehilangan tempat untuk tumbuh.
Anak-anak lebih akrab dengan lagu-lagu yang diputar melalui telepon genggam daripada nyanyian yang dahulu mengiringi tidur mereka. Remaja lebih mudah menemukan musik dari berbagai belahan dunia dibandingkan mengenali bunyi alat musik yang hidup di kampung halamannya sendiri.
Padahal, sebagaimana ditegaskan dalam kerangka berpikir Program Eksplorasi Musik Komunal, musik tradisi tidak sekadar dipahami sebagai bunyi, lagu, atau alat musik. Di balik setiap nyanyian, tabuhan, tiupan, maupun petikan terdapat pengetahuan yang tumbuh bersama kehidupan masyarakat. Karena itu, mendokumentasikan musik tidak cukup hanya merekam pertunjukan, tetapi juga memahami bagaimana musik tersebut hidup, diwariskan, dan dimaknai oleh komunitas pendukungnya.
Di Parigi, Harapan Itu Masih Ada
Harapan itu ternyata masih tumbuh. Ia tidak selalu hadir dalam jumlah besar. Kadang hanya satu orang. Tetapi satu orang yang belajar dengan sungguh-sungguh sering kali lebih berarti daripada puluhan orang yang sekadar datang menonton.
Di Kelurahan Masigi, Kabupaten Parigi Moutong, tim eksplorasi bertemu seorang pemuda berusia 23 tahun. Namanya Mohammad Farham Fattahilah. Namun hampir semua orang mengenalnya dengan sapaan Aan Badja.
Di usianya yang masih muda, Aan memilih jalan yang mungkin tidak banyak diminati teman-teman sebayanya. Ia belajar Gamba-gamba, ansambel perkusi tradisional masyarakat Kaili Tara.
Pilihan itu bukan tanpa tantangan. Belajar musik tradisi tidak cukup hanya menghafal ritme. Ia harus memahami kapan musik dimainkan. Dalam acara apa digunakan.
Mengapa pola tabuhan tertentu hanya dimainkan pada situasi tertentu. Bahkan nama setiap pola tabuhan memiliki makna yang harus dipahami. Semua pengetahuan itu diwariskan secara lisan. Tidak ada buku pegangan. Tidak ada sekolah khusus.
Yang ada hanyalah kesediaan duduk bersama para maestro, mendengar, mengulang, lalu mempraktikkan berulang kali. Dalam banyak kesempatan, proses belajar seperti itu berlangsung jauh lebih lama dibandingkan belajar memainkan alat musik modern.
Namun justru di sanalah letak nilai sebuah tradisi. Ia bukan sekadar keterampilan teknis. Melainkan proses membangun hubungan antargenerasi. Hubungan antara seorang murid dengan orang-orang yang telah lebih dahulu menjaga pengetahuan tersebut.
Ketika ditemui dalam wawancara lapangan pada 11 Juli 2026, Aan Badja menyampaikan harapannya dengan nada yang tenang. Namun setiap kalimatnya menunjukkan bahwa ia memahami betul arti penting dokumentasi yang sedang dilakukan.
Sebagai generasi muda yang belajar langsung dari para maestro, saya berharap dokumentasi ini menjadi sumber belajar yang dapat diakses oleh masyarakat, khususnya anak-anak muda Kaili.
Bagi Aan, dokumentasi bukan sekadar arsip. Ia adalah jembatan. Sarana agar pengetahuan yang selama ini hanya dimiliki segelintir orang dapat dipelajari kembali oleh siapa pun yang ingin mengenalnya.
Harapan itu kemudian ia lanjutkan.
Semoga semakin banyak generasi muda yang tertarik mempelajari Gamba-gamba, sehingga bukan hanya cara memainkannya yang tetap lestari, tetapi juga nama-nama pola tabuhan, sejarah, dan nilai budaya yang menyertainya.
Kalimat itu terasa penting. Sebab selama ini pelestarian musik tradisi sering kali hanya berhenti pada pertunjukan. Orang melihat bagaimana alat musik dimainkan.
Tetapi tidak mengetahui sejarahnya. Tidak memahami istilah-istilah lokalnya. Tidak mengenal nilai budaya yang terkandung di dalam setiap bunyi. Padahal semua itulah yang justru menjadi ruh dari sebuah tradisi.
Pengalaman bertemu para maestro maupun pewaris memperlihatkan bahwa persoalan utama musik tradisi bukan semata-mata berkurangnya pelaku. Persoalan yang jauh lebih besar adalah hilangnya ruang belajar.
Selama bertahun-tahun berbagai penelitian mengenai musik tradisi Kaili telah dilakukan. Banyak hasil penelitian tersimpan di perpustakaan, kampus, atau arsip akademik.
Namun tidak semuanya kembali kepada masyarakat yang menjadi pemilik tradisi. Inilah yang ingin dijawab oleh Program Eksplorasi Musik Komunal.
Melalui dokumentasi audio berkualitas, video, fotografi, penulisan, profil maestro, profil pewaris, hingga forum Lokanada, seluruh hasil eksplorasi diupayakan kembali kepada masyarakat sebagai sumber belajar bersama.
Dengan demikian, dokumentasi tidak berhenti menjadi laporan. Ia berubah menjadi ruang belajar. Seorang anak di Sigi dapat mendengar kembali Nompaova. Seorang remaja di Donggala dapat mempelajari Dadendate.
Seorang mahasiswa di Parigi Moutong dapat mengenali pola tabuhan Gamba-gamba. Dan seorang guru dapat memperkenalkan kembali musik tradisi Kaili kepada murid-muridnya menggunakan bahan dokumentasi yang selama ini belum pernah tersedia secara utuh.
Barangkali inilah makna terdalam dari proses eksplorasi tersebut. Bukan sekadar menyelamatkan lagu. Tetapi mengembalikan pengetahuan kepada mereka yang sejak awal menjadi pemiliknya. Sebab sebuah warisan budaya baru benar-benar hidup ketika ia kembali dipelajari oleh masyarakatnya sendiri.
Perjalanan panjang itu kemudian bermuara pada harapan sederhana sang penggagas program. Harapan yang sesungguhnya menjadi alasan mengapa seluruh proses eksplorasi ini dilakukan.
Harapan yang tidak berbicara tentang penghargaan, proyek, ataupun pengakuan. Melainkan tentang seorang anak Kaili yang suatu hari nanti masih bisa mendengar lagu yang dahulu dinyanyikan oleh leluhurnya.
Bagian IV – Menjaga Bunyi, Merawat Ingatan
Ada satu hal yang saya sadari setelah mendengar dan membaca perjalanan Program Eksplorasi Musik Komunal yang mereka kerjakan selama beberapa bulan terakhir.
Musik tradisi ternyata tidak pernah benar-benar berbicara tentang musik. Ia berbicara tentang manusia. Tentang hubungan seorang nenek dengan cucunya. Tentang seorang ayah yang mengajarkan syair kepada anaknya. Tentang seorang maestro yang menghabiskan puluhan tahun menjaga lagu tanpa pernah berpikir apakah suatu hari nanti namanya akan dikenang orang. Musik hanyalah bahasa yang mereka gunakan untuk mewariskan kehidupan. Di tengah derasnya perubahan zaman, masyarakat Kaili sesungguhnya sedang menghadapi sebuah persimpangan.
Di satu sisi, modernisasi menghadirkan begitu banyak pilihan hiburan dan ruang ekspresi baru. Anak-anak kini tumbuh bersama gawai, internet, dan musik dari berbagai belahan dunia. Tidak ada yang salah dengan itu. Kebudayaan memang selalu bergerak mengikuti zamannya. Namun di sisi lain, perubahan itu perlahan menggeser ruang-ruang tempat musik tradisi dahulu hidup.
Nompaova tidak lagi banyak terdengar di rumah-rumah. Dadendate semakin jarang dinyanyikan. Nama-nama pola tabuhan Gamba-gamba mulai terlupakan. Sebagian istilah lokal yang dahulu sangat akrab kini bahkan tidak lagi dipahami oleh generasi muda.
Hasil eksplorasi lapangan menunjukkan kenyataan tersebut. Pada beberapa objek ditemukan berkurangnya jumlah lagu yang masih diingat, memudarnya istilah-istilah lokal, semakin sedikit ruang pertunjukan tradisional, serta menurunnya jumlah generasi muda yang belajar langsung kepada para maestro. Kondisi itu dipandang bukan sebagai akhir sebuah tradisi, melainkan sebagai dasar untuk menyusun langkah pelindungan, pewarisan, dan pengembangannya. Itulah sebabnya dokumentasi menjadi begitu penting. Bukan karena tradisi telah mati. Justru karena tradisi itu masih hidup.
Masih ada orang yang mampu menyanyikannya. Masih ada orang yang mampu memainkannya. Masih ada orang yang masih mengingat setiap bait syair dan setiap pola tabuhan. Selama para penjaga pengetahuan itu masih ada, kesempatan untuk menyelamatkan warisan tersebut masih terbuka.
Program Eksplorasi Musik Komunal memilih bergerak pada saat yang tepat yakni ketika ingatan itu masih bisa direkam, ketika suara-suara itu masih bisa didengar, dan ketika para maestro masih dapat menceritakan sendiri sejarah yang mereka jalani. Di balik seluruh proses tersebut, ada filosofi yang terus menjadi pegangan. Menjaga Bunyi, Merawat Ingatan.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi mengandung makna yang sangat dalam. Bunyi hanyalah pintu masuk. Yang sebenarnya sedang dijaga adalah ingatan kolektif masyarakat. Sebab di dalam setiap lagu tradisi tersimpan sejarah sebuah kampung. Tersimpan bahasa yang mungkin tidak lagi digunakan dalam percakapan sehari-hari. Tersimpan cara masyarakat memandang alam. Tersimpan petuah tentang kehidupan. Bahkan tersimpan cara orang tua dahulu mengekspresikan kasih sayangnya kepada anak-anak mereka.
Saya kembali teringat kepada almarhum nenek. Barangkali ketika beliau menyanyikan Nompaova puluhan tahun lalu, beliau tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari cucunya akan tumbuh dewasa dan merindukan lagu itu.
Beliau mungkin tidak pernah menyangka bahwa nyanyian sederhana yang dilantunkan setiap malam ternyata menjadi bagian penting dari identitas keluarga kami. Dan saya yakin, kisah seperti ini tidak hanya terjadi pada saya.
Di banyak rumah masyarakat Kaili, mungkin ada kenangan yang sama. Ada lagu yang dahulu sering dinyanyikan tetapi kini tidak lagi terdengar. Ada suara yang pernah menjadi bagian dari masa kecil seseorang, lalu perlahan hilang karena tidak ada lagi yang mewarisinya.
Ketua DPC PAPPRI Kabupaten Sigi sekaligus penggagas Program Eksplorasi Musik Komunal, Yudhi Nugraha, menyadari bahwa seluruh upaya dokumentasi ini pada akhirnya bermuara pada satu tujuan yang sangat sederhana.
Bukan mengejar penghargaan. Bukan pula sekadar menghasilkan laporan penelitian. Ia berharap apa yang sedang dilakukan hari ini benar-benar dapat menjadi jembatan bagi generasi mendatang.
Harapannya sederhana, semoga anak-anak Kaili di masa depan masih dapat mendengar lagu-lagu yang pernah mengiringi kehidupan para orang tua dan leluhurnya, bukan hanya melalui cerita, tetapi juga melalui rekaman, pembelajaran, dan praktik yang terus hidup di tengah masyarakat.
Yudhi kemudian melanjutkan dengan kalimat yang menjadi inti dari seluruh program tersebut.
Bagi saya, mendokumentasikan musik tradisi bukan sekadar menyimpan bunyi, melainkan menjaga ingatan, pengetahuan, dan jati diri sebuah masyarakat.
Kalimat itu seolah merangkum seluruh perjalanan yang telah ditempuh selama berbulan-bulan. Perjalanan yang membawa tim eksplorasi menyusuri desa-desa. Mendatangi rumah-rumah maestro. Mendengar cerita yang selama ini hanya hidup dalam ingatan. Merekam lagu-lagu yang nyaris hilang. Menuliskan kembali sejarah yang selama puluhan tahun diwariskan secara lisan.
Pada akhirnya, Program Eksplorasi Musik Komunal bukan sekadar menghadirkan dokumentasi. Program ini sedang menghubungkan tiga generasi sekaligus.
Generasi pertama adalah para maestro. Mereka adalah penjaga pengetahuan. Orang-orang yang menyimpan lagu, syair, teknik permainan, bahasa, dan nilai budaya selama puluhan tahun.
Generasi kedua adalah para pewaris. Mereka yang hari ini memilih duduk bersama para maestro, mendengar, belajar, lalu meneruskan apa yang masih dapat diwariskan.
Dan generasi ketiga adalah anak-anak Kaili yang mungkin hari ini bahkan belum mengenal nama Nompaova, Dadendate, Karambangan, Lalove Hidung, Musik Bambu Uwemanje, ataupun Gamba-gamba.
Merekalah alasan mengapa seluruh pekerjaan ini dilakukan. Agar suatu hari nanti mereka tidak hanya membaca tentang musik tradisi Kaili di dalam buku sejarah.
Tetapi dapat mendengarnya. Mempelajarinya. Menyanyikannya. Memainkannya. Dan menjadikannya bagian dari kehidupan mereka sendiri.
Diakhir diskusi bersama Yudhi, saya kembali teringat pada satu pertanyaan yang sempat mengusik pikiran sejak awal.
Bagaimana jika saya tidak pernah menerima kiriman artikel tentang Program Eksplorasi Musik Komunal?
Mungkin saya akan terus menganggap kerinduan terhadap Nompaova hanyalah nostalgia pribadi. Padahal ternyata, kerinduan itu juga sedang dirasakan oleh banyak orang.
Ia dirasakan oleh para maestro yang khawatir lagu-lagu mereka berhenti pada generasinya. Ia dirasakan oleh para pewaris yang berharap memiliki bahan belajar yang utuh. Ia dirasakan oleh para pegiat budaya yang melihat semakin sempitnya ruang pewarisan.
Dan mungkin, tanpa disadari, ia juga dirasakan oleh seluruh masyarakat Kaili yang perlahan kehilangan suara-suara yang dahulu begitu akrab dalam kehidupan sehari-hari.
Kini saya memahami bahwa suara nenek yang dahulu mengantar tidur bukan sekadar nyanyian. Ia adalah warisan. Ia adalah pengetahuan. Ia adalah bagian dari identitas kami sebagai orang Kaili.
Dan selama masih ada orang-orang yang bersedia menelusuri rumah-rumah para maestro, mendengarkan cerita mereka, merekam setiap syair, setiap tabuhan, setiap tiupan, serta menuliskannya untuk generasi berikutnya, harapan itu akan tetap hidup.
Sebab warisan budaya tidak selalu bertahan karena usianya yang panjang. Ia bertahan karena selalu ada orang yang memilih untuk mengingat, mempelajari, dan mewariskannya kembali.
Mungkin suatu hari nanti, ketika seorang anak Kaili kembali terlelap di dalam ayunan sambil mendengarkan Nompaova, ia tidak akan pernah mengetahui bahwa puluhan tahun sebelumnya ada orang-orang yang berjalan dari desa ke desa demi memastikan suara itu tidak hilang.
Namun justru di situlah arti sesungguhnya dari sebuah pelestarian. Bekerja dalam diam, agar suatu hari nanti sebuah tradisi dapat kembali hidup dengan wajar di tengah masyarakatnya.
Dan ketika hari itu tiba, kita akan tahu bahwa yang berhasil diselamatkan bukan hanya lagu-lagu lama. Melainkan ingatan, pengetahuan, dan jati diri sebuah masyarakat. Tabe, Tabe, Tabe... Songgo Poasi.






