MEDIA KAILI - Sorotan lampu berwarna kekuningan menembus tipis udara malam di area parkir Jodjokodi Convention Center (JCC) Kota Palu, Jumat (17/7/2026). Panggung sederhana bernuansa outdoor itu berdiri di tengah suasana remang-remang yang justru menghadirkan kehangatan tersendiri. Tidak ada gemerlap berlebihan, hanya cahaya yang cukup untuk menyorot para penampil dan ratusan pasang mata yang sejak awal malam telah menanti pertunjukan dimulai.
Di tempat itulah episode kedua Release Party "Promo Tour EP INOSA 2026" digelar.
Setelah sebelumnya menyambangi Ruang Terbuka Hijau Taiganja di Kabupaten Sigi pada Juni lalu, kini perjalanan promosi mini album NOL (No One Lost) milik band metal asal Kota Palu itu berlanjut ke pusat kota. Bagi CIKStudio, label musik yang menaungi INOSA, panggung ini bukan sekadar konser, melainkan ruang perjumpaan antara karya, pelaku seni, dan para penikmatnya.
Di tengah perubahan industri musik yang semakin bergerak ke ruang digital, CIKStudio memilih cara yang berbeda yakni membawa musik kembali bertemu manusia secara langsung.
Melalui program bertajuk Release Party "Promo Tour EP INOSA 2026", mereka mencoba menakar peluang bagi musisi lokal untuk mendapatkan ruang tampil, memperluas jejaring, dan meningkatkan eksistensi di tingkat daerah maupun nasional.
"Tujuan besarnya sederhana namun penting yaitu memperluas jangkauan pendengar INOSA, menjaga keberlanjutan karya musisi Sulawesi Tengah, sekaligus menciptakan ruang kolektif yang mampu mempertemukan berbagai elemen industri kreatif", ungkap Herman, promotor sekaligus direktur CIKStudio.
Malam itu, ruang parkir JCC berubah menjadi ruang budaya yang hidup. Musisi, pegiat seni, media, label musik, promotor, event organizer, komunitas kreatif, hingga masyarakat umum berbaur tanpa sekat. Sekitar 200 penonton memenuhi area pertunjukan, sebagian duduk santai menikmati kopi, sebagian lainnya berdiri mengabadikan momen melalui telepon genggam mereka.
Seperti gelaran sebelumnya, acara dibuka oleh Karambangan of Celebes. Petikan khas karambangan Toro mengalun perlahan, menghadirkan suasana teduh yang sejenak membuat penonton melupakan hiruk-pikuk kota di sekeliling mereka.
Tak lama kemudian, seluruh hadirin berdiri bersama menyanyikan lagu Indonesia Raya yang menggema di bawah langit malam Kota Palu.
Di depan panggung penampilan Noeda Dance yang menghadirkan pertunjukan tari kontemporer penuh ekspresi. Gerakan tubuh para penari cilik menyatu dengan permainan cahaya panggung yang redup, menciptakan suasana dramatik yang memukau penonton.
Setelah itu, suasana kembali berubah ketika Bengkel Seni Bias 14 menghadirkan pembacaan puisi. Kata-kata yang dilantunkan perlahan mengisi ruang malam, menghadirkan jeda sebelum dentuman musik metal mengambil alih panggung.
Dan ketika lampu mulai meredup kembali, sorotan hanya tertuju pada beberapa titik di atas panggung. INOSA akhirnya muncul.
Tanpa banyak kata, lagu "Rusak Parah" langsung menghantam sebagai pembuka. Distorsi gitar yang keras berpadu dengan dentuman bass dan drum memecah malam. Penonton yang sejak awal menunggu akhirnya bergerak mendekati panggung.
Energi itu terus dijaga melalui lagu kedua "Primitive", yang membuat suasana semakin panas.
Namun salah satu momen yang paling menyita perhatian malam itu hadir ketika Ketua PAPRI Sulawesi Tengah, Adi Tangkilisan, naik ke atas panggung. Di bawah sorotan lampu yang remang, ia menampilkan permainan freestyle gitar bass bersama Indra di posisi drum. Kolaborasi spontan tersebut langsung disambut sorak sorai penonton yang memenuhi area depan panggung.
Riuh tepuk tangan belum juga mereda ketika pertunjukan kembali mencapai puncaknya. INOSA kemudian menghadirkan kolaborasi bersama Sanggar Seni Tamunggu melalui aksi teatrikal memukau yang memadukan musik metal di atas panggung.
Pada lagu "Spesies" dan "Bayangan", para penampil dari sanggar seni Tamunggu Dolo bergerak mengikuti ritme musik yang menggelegar. Permainan ekspresi, gerak tubuh, dan tata cahaya yang minim menciptakan atmosfer pertunjukan yang kuat dan emosional.
Malam itu, musik metal tidak berdiri sendiri. Ia bertemu gerak teatrikal, tari, sastra, dan tradisi dalam satu panggung yang sama.
Menjelang akhir pertunjukan, INOSA menutup penampilan mereka melalui lagu "Rise Up". Penonton ikut berjingkrak, mengangkat tangan, dan larut dalam energi yang mengalir dari atas panggung.
Namun gelaran ini tidak hanya berbicara tentang musik. Di beberapa sudut area acara, pengunjung terlihat mengantre mengambil berbagai fasilitas yang disediakan panitia, mulai dari merchandise band, 200 cangkir kopi gratis, 200 roti tunu, hingga program adopsi 300 bibit rica yang seluruhnya dibagikan secara cuma-cuma kepada pengunjung.
Pemandangan itu memperlihatkan bahwa sebuah pertunjukan musik dapat tumbuh menjadi ruang berbagi, ruang bertemu, sekaligus ruang membangun komunitas.
Di tengah sorotan lampu yang temaram dan dentuman musik yang menggema hingga larut malam, Release Party Promo Tour EP INOSA 2026 seolah meninggalkan satu pesan sederhana, bahwa karya musik lokal akan terus bernapas selama masih ada ruang yang mau mendengarkan, mendukung, dan merayakannya bersama.
Penulis: Azwar Anas




