Saat Distorsi Menjadi Jeritan Zaman, INOSA Rilis Mini Album “NOL (No One Lost)”



MEDIA KAILI - Sejak remaja, telinga saya sudah akrab dengan dentuman musik metal. Musik keras dengan riff gitar tajam, gebukan drum cepat, dan vokal penuh amarah itu seperti punya ruang tersendiri untuk melampiaskan kegelisahan. Nama-nama seperti Metallica, Slayer, Sepultura, hingga Pantera menjadi soundtrack masa remaja yang terus teringat sampai sekarang.


Dari Indonesia, era 90-an juga melahirkan gelombang band metal yang tidak kalah liar. Ada Burgerkill, Rotor, Sucker Head, hingga Purgatory yang dulu sering terdengar dari kaset-kaset bajakan, rental CD, hingga tongkrongan kecil para penikmat musik cadas.


Bagi sebagian orang, musik metal hanya dianggap bising. Tapi bagi para penikmatnya, metal adalah ruang untuk berbicara tentang kemarahan, keresahan, ketidakadilan, hingga luka hidup yang sulit dijelaskan dengan kata-kata biasa. Dan kini, semangat itu kembali saya rasakan ketika mendengar kabar tentang band metal asal Kota Palu, INOSA.


Band ini kembali mengguncang skena musik cadas Indonesia lewat perilisan mini album perdana mereka bertajuk “NOL (No One Lost)” yang resmi dirilis pada 15 Mei 2026 di seluruh platform digital streaming. Rilisan ini terasa seperti tanda bahwa bara metal dari timur Indonesia masih terus menyala.


INOSA hadir dengan formasi Papamedz pada posisi vokal dan bass, MR Gamz di gitar sekaligus back vocal, serta Bimo sebagai gitaris. Mereka membawa warna musik yang keras, emosional, dan penuh energi perlawanan. Bersamaan dengan perilisan mini album tersebut, INOSA juga resmi bergabung dengan label lokal Cahaya Inti Kemilau yang berbasis di Desa Kabobona, Kabupaten Sigi.


Mini album “NOL (No One Lost)” bukan hanya kumpulan lagu dengan distorsi tebal dan tempo agresif. Di balik musik yang terdengar brutal, tersimpan cerita tentang kekacauan hidup, keserakahan manusia, ketidakadilan sosial, hingga rasa kehilangan yang kini terasa semakin dekat dengan kehidupan banyak orang.


INOSA mencoba menghadirkan karya yang bukan sekadar keras secara musikal, tetapi juga memiliki pesan yang kuat. “NOL” dimaknai sebagai titik awal untuk memperbaiki diri agar tidak kembali tersesat dalam kehancuran dan kebisingan dunia yang semakin kacau. Sebuah simbol kebangkitan setelah keterpurukan.


Enam lagu dalam mini album ini disusun seperti satu rangkaian emosi yang saling terhubung. Dimulai dari Rise Up, Satu Lawan Sembilan, Antek Global, Rusak Parah, Primitif, hingga ditutup dengan NOL 1980. Setiap lagu terasa seperti ledakan kemarahan yang diarahkan untuk melawan keadaan, namun tetap menyimpan harapan agar manusia tidak kehilangan dirinya sendiri.


Musik INOSA terdengar keras, gelap, dan liar, tetapi di saat yang sama terasa jujur. Ada amarah yang tidak dibuat-buat. Ada luka sosial yang diterjemahkan menjadi riff-riff berat dan lirik penuh kritik. Di situlah kekuatan mini album ini terasa.


Dari sisi produksi, mini album ini juga digarap dengan serius. Seluruh materi musik ditulis oleh INOSA dengan lirik yang dikerjakan oleh Papamedz. Proses produksi diproduseri Herman bersama co-produser Ans Nome.


Rekaman drum dilakukan di Global Music Studio, sementara proses rekaman vokal, bass, dan gitar dilakukan di CIKSTUDIO. Andie R Djayadiningrat dipercaya sebagai operator recording dan editing. Proses mixing dan mastering kemudian ditangani Dylan di Stellar Capsule Studio untuk memperkuat karakter sound yang padat dan agresif.


Beberapa kolaborator juga ikut memperkaya nuansa mini album ini. Sisca Dama mengisi choir pada lagu “NOL 1980”, sementara Rio Oscar menghadirkan growl yang membuat atmosfer lagu semakin gelap dan brutal. Back vocal pada lagu “Antek Global” diisi Eril dan Risman. Dylan turut menambahkan piano dan sequencer, sedangkan drum tracking dibantu Abahzhan, mantan personel INOSA.


Tidak hanya fokus pada musik, INOSA juga memberi perhatian serius pada sisi visual. Artwork album digarap oleh Kopi Jahex dan Iwin Kuk, sementara logo dan sigils dikerjakan Rio Oscar. Dokumentasi foto resmi band dipercayakan kepada Riophotographystudio.


Lewat “NOL (No One Lost)”, INOSA memperlihatkan bahwa musik metal bukan hanya soal teriakan dan distorsi keras. Musik metal juga bisa menjadi medium untuk menyampaikan keresahan sosial, luka hidup, hingga semangat untuk bangkit dari keterpurukan.


Di tengah industri musik yang kini dipenuhi lagu-lagu ringan dan cepat hilang, kehadiran INOSA terasa seperti suara keras dari timur Indonesia yang menolak padam. Sebuah pengingat bahwa skena metal di Kota Palu masih hidup, masih melawan, dan masih punya cerita untuk diteriakkan.


Bagi penikmat musik metal yang ingin mengetahui lebih jauh tentang perjalanan dan karya terbaru INOSA, band ini juga membuka ruang komunikasi melalui kontak Phone/WhatsApp di nomor 0821 6542 1717 dan 0853 4296 6944. Selain itu, informasi serta aktivitas terbaru mereka dapat diikuti melalui email cahayaintikemilau@gmail.com dan akun Instagram resmi @inosa_plw


Kini, mini album “NOL (No One Lost)” sudah dapat didengarkan di seluruh platform digital streaming favorit.





Penulis: War Balacai

Post a Comment

To be published, comments must be reviewed by the administrator *

Lebih baru Lebih lama