Kondisi Sosial Berkesenian di Sulteng: Antara Bertahan Hidup dan Kehilangan Ruang



Oleh: Om Nome


Kadang saya berpikir, menjadi seniman ataupun pekerja seni di Sulawesi Tengah hari ini seperti berjalan di lorong yang semakin sempit. Di satu sisi, orang-orang masih suka menonton pertunjukan seni, menikmati lagu karya musisi lokal, musik tradisi, memotret tarian daerah, bahkan ramai mengunggah festival musik ataupun budaya ke media sosial. Tapi di sisi lain, para pelaku seninya sendiri justru sering hidup dalam keadaan yang tidak pasti. Mereka dipuji di atas panggung, tetapi kesulitan bertahan setelah lampu pertunjukan dipadamkan.


Beberapa waktu lalu, saya berdiskusi dengan beberapa orang musisi lokal dan pelaku seni tradisi di Kota Palu dan Sigi. Mereka tersenyum sambil tertawa kecil ketika ditanya apakah menjadi pelaku seni masih bisa dijadikan profesi? Kemudian salah satu dari mereka menjawab, “Kalau untuk hidup penuh dari seni di sini, berat,” katanya pelan. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi terasa sangat panjang maknanya. Sebab di balik jawaban itu ada kenyataan tentang seniman yang harus membagi hidupnya menjadi dua, siang bekerja serabutan, malam menjaga kesenian agar tidak mati.


Di Sulawesi Tengah, banyak pelaku seni hidup dalam situasi seperti itu. Mereka bukan tidak mencintai seni, justru karena terlalu mencintai, mereka bertahan meski keadaan sering tidak berpihak. Ada pemusik tradisi yang alat musiknya mulai rusak tetapi tak mampu mengganti. Ada penari yang harus membiayai kostumnya sendiri. Ada kelompok band yang latihan berpindah-pindah tempat karena tidak memiliki ruang tetap. Bahkan ada sanggar yang perlahan vakum karena generasi mudanya memilih pergi bekerja ke luar daerah.


Persoalannya bukan sekadar soal dana. Yang lebih mengkhawatirkan adalah hilangnya ruang sosial bagi kesenian itu sendiri.


Hari ini ruang publik kita lebih sibuk mengejar hal-hal yang dianggap cepat menghasilkan keuntungan. Kesenian perlahan ditempatkan hanya sebagai pelengkap seremoni. Ia dipanggil saat pembukaan acara, dipuji sebentar, lalu dilupakan lagi. Jarang ada pembicaraan serius tentang bagaimana ekosistem seni bisa hidup dalam jangka panjang. Seolah-olah tugas seniman hanya menghibur, bukan menjaga identitas budaya masyarakat.


Padahal kalau direnungkan lebih jauh, kesenian di Sulawesi Tengah bukan sekadar pertunjukan. Ia adalah ingatan kolektif. Di dalam karya lagu, musik tradisi, tarian, sastra lisan, hingga ritual adat, tersimpan cara masyarakat memahami kehidupan. Seni menjadi bahasa yang menyatukan generasi lama dengan generasi muda. Tetapi ketika ruang hidup kesenian makin menyempit, yang sebenarnya sedang hilang bukan hanya pertunjukannya, melainkan juga cara masyarakat mengenali dirinya sendiri.


Yang ironis, perhatian terhadap seni sering muncul hanya ketika ada festival besar atau momentum tertentu. Setelah itu semuanya kembali sunyi. Seniman kembali berjuang sendiri. Pemerintah, masyarakat, bahkan dunia pendidikan kadang belum benar-benar melihat seni sebagai bagian penting dari pembangunan sosial. Akibatnya banyak anak muda berbakat mulai ragu menekuni dunia seni karena merasa masa depannya tidak jelas.


Dalam banyak diskusi kecil dengan kawan-kawan seniman, saya sering mendengar pertanyaan yang sama, “Apakah berkesenian di daerah ini masih punya masa depan?” Pertanyaan itu sebenarnya bukan bentuk pesimisme, melainkan kegelisahan. Mereka ingin bertahan, tetapi juga ingin hidup layak. Mereka ingin menjaga budaya, tetapi juga membutuhkan ruang untuk tumbuh.


Di tengah kondisi seperti ini, yang paling menyedihkan mungkin bukan kondisi ekonomi senimannya, melainkan mulai pudarnya rasa memiliki masyarakat terhadap kesenian daerahnya sendiri. Ketika seni tradisi dianggap kuno, ketika talenta-talenta lokal kalah dihargai dibanding talenta luar, maka perlahan kita sedang membiarkan akar budaya kita mengering.


Namun saya percaya, kesenian Sulawesi Tengah belum benar-benar kehilangan harapan. Masih ada komunitas kecil yang terus bergerak. Masih ada anak-anak muda yang diam-diam belajar musik tradisi. Masih ada sanggar yang bertahan dengan segala keterbatasan. Masih ada musisi-musisi lokal yang tetap konsisten dengan karya-karyanya. Mereka adalah orang-orang yang menjaga nyala kecil agar tidak padam sepenuhnya.


Mungkin yang dibutuhkan hari ini bukan hanya festival atau panggung sesaat, tetapi keberpihakan yang nyata. Ruang latihan yang layak, perhatian terhadap kesejahteraan pelaku seni, pendidikan budaya yang kuat, dan dukungan masyarakat untuk menghargai karya daerahnya sendiri. Sebab kesenian tidak bisa hidup hanya dengan tepuk tangan. Ia membutuhkan ruang sosial yang sehat agar dapat tumbuh bersama masyarakatnya.


Kalau tidak, suatu hari nanti kita mungkin masih punya gedung pertunjukan, masih punya acara budaya, tetapi kehilangan jiwa keseniannya. Dan saat itu terjadi, kita baru sadar bahwa yang hilang bukan sekadar hiburan, melainkan sebagian dari identitas kita sendiri. Penulis adalah Direktur Magulili Institute

Post a Comment

To be published, comments must be reviewed by the administrator *

Lebih baru Lebih lama