Oleh : Azwar Anas
Beberapa waktu lalu saya tidak sengaja membaca postingan Ketua PAPPRI Sulteng, Adi Tangkilisan, yang dikutip dari status aktivis musik di Jakarta di media sosial Facebook. Tulisannya sederhana, tetapi cukup mengganggu pikiran saya hingga beberapa hari, bermusik itu sebenarnya hobi atau industri?
Pertanyaan itu terdengar ringan, tetapi semakin dipikirkan justru terasa rumit. Sebab di Sulawesi Tengah, dan mungkin juga di banyak daerah lain, dunia musik sering berdiri di antara dua jalan yang saling bertabrakan. Di satu sisi, musik adalah ruang ekspresi, tempat orang melarikan diri dari penat hidup, tempat idealisme tumbuh tanpa harus dihitung untung rugi. Namun di sisi lain, musik juga menuntut perut untuk diisi, tagihan untuk dibayar, dan masa depan untuk dipikirkan.
Saya teringat banyak kawan musisi di Palu dan Sigi yang memulai semuanya dari nongkrong kecil di teras rumah, meminjam gitar teman, latihan sampai larut malam, lalu tampil dari panggung ke panggung kecil tanpa bayaran yang layak. Mereka mencintai musik begitu dalam, bahkan rela mengeluarkan uang sendiri hanya untuk merekam lagu atau menyewa studio latihan. Pada fase itu, musik jelas bukan industri. Musik adalah cinta. Musik adalah hobi yang membuat seseorang tetap hidup secara batin.
Tetapi waktu berjalan. Umur bertambah. Kebutuhan hidup datang satu per satu. Di titik itulah pertanyaan tadi mulai terasa nyata.
Apakah musik cukup untuk hidup?
Sebagian akhirnya menyerah. Ada yang memilih menjadi pegawai, membuka usaha kecil, bahkan meninggalkan dunia panggung sepenuhnya. Musik tinggal dimainkan sesekali ketika ada acara atau saat rindu datang diam-diam di malam hari. Mereka tidak berhenti mencintai musik, hanya saja keadaan memaksa mereka menjadikan musik sekadar hobi.
Namun ada juga yang bertahan. Mereka mencoba menjadikan musik sebagai profesi. Mulai menghitung pasar, membuat strategi promosi, belajar distribusi digital, memahami algoritma media sosial, hingga memikirkan bagaimana karya bisa menghasilkan uang. Mereka mulai sadar bahwa talenta saja tidak cukup. Dunia musik hari ini bergerak seperti industri lain, siapa yang mampu beradaptasi, dia yang bertahan.
Di sinilah sering muncul benturan yang diam-diam memecah banyak komunitas musik. Ketika seseorang mulai bicara soal honor, kontrak kerja, monetisasi lagu, atau manajemen band, kadang muncul anggapan bahwa ia “tidak lagi idealis”. Seolah-olah musik harus murni tanpa bicara uang. Padahal ironisnya, semua orang tetap membutuhkan biaya untuk berkarya.
Kita sering memuji musisi yang konsisten berkarya, tetapi lupa bertanya bagaimana mereka bertahan hidup.
Sulawesi Tengah sebenarnya memiliki banyak talenta musik yang kuat. Genre terus berkembang, dari folk, reggae, rock alternatif, musik tradisi, metal hingga eksperimen etnik modern. Anak-anak Band mulai berani membuat mini album, video klip mandiri, bahkan membangun panggung pertunjukan sendiri. Tetapi banyak yang masih berjalan tanpa ekosistem yang sehat. Ruang tampil terbatas, apresiasi publik belum stabil, dan dukungan industri kreatif masih minim.
Akibatnya, banyak musisi hidup di wilayah abu-abu, tidak cukup profesional untuk disebut industri, tetapi juga terlalu serius jika hanya disebut hobi.
Saya kira pertanyaan dari Adi Tangkilisan bukan sekadar pilihan hitam putih. Bermusik bisa dimulai dari hobi, tetapi tidak salah jika kemudian ingin menjadi industri. Sebab karya yang baik juga pantas dihargai secara ekonomi. Tidak semua orang harus menjadi musisi profesional, tetapi mereka yang memilih jalan itu seharusnya tidak dipandang sinis.
Musik bukan hanya soal tepuk tangan di atas panggung. Ada proses panjang, biaya produksi, tenaga, waktu, dan pengorbanan emosional di belakangnya. Ketika seorang musisi dibayar layak, itu bukan berarti ia menjual idealisme. Bisa jadi itu justru bentuk penghargaan terhadap kerja kreatif yang selama ini dianggap remeh.
Mungkin persoalan terbesar kita bukan memilih musik sebagai hobi atau industri. Persoalan sebenarnya adalah bagaimana menciptakan lingkungan yang membuat musisi tidak harus memilih salah satunya secara terpaksa.
Karena pada akhirnya, banyak musisi hanya ingin satu hal sederhana, tetap bisa berkarya tanpa harus kehilangan cara untuk hidup. Penulis: Masyarakat Awam

Posting Komentar