MEDIA KAILI -Tanggal 9 Mei kemarin, saya menerima sebuah poster kegiatan dari sahabat saya, Yoyow Ikan, melalui pesan WhatsApp. Poster itu mengabarkan tentang sebuah kegiatan yang akan digelar pada 22–23 Mei mendatang di Hutan Buatan Desa Bale, Kabupaten Donggala.
Nama acaranya cukup unik, “HAPPY KUK DAY.”
Awalnya saya sempat bertanya-tanya dalam hati, kegiatan apa lagi ini? Namanya terdengar asing, nyeleneh, bahkan sedikit jenaka. Namun rasa penasaran membuat saya membaca isi poster itu sampai selesai. Dari situlah saya mulai memahami bahwa kegiatan ini bukan sekadar kegiatan biasa, melainkan sebuah perayaan kecil yang membawa gagasan besar tentang lingkungan, kesederhanaan, dan keberanian untuk hidup tidak selalu mengikuti arus zaman.
“HAPPY KUK DAY” digagas secara independen oleh komunitas dan seniman lokal tanpa dukungan korporasi besar. Di tengah banyaknya event yang hari ini bergantung pada sponsor besar dan kemasan glamor, kegiatan ini justru memilih berdiri dengan cara sederhana. Mereka ingin membangun ruang yang jujur, hangat, dan dekat dengan alam. Sebuah ruang di mana kreativitas tumbuh bukan karena modal besar, tetapi karena solidaritas dan semangat bersama.
Dalam poster itu dijelaskan bahwa pengunjung nantinya dapat menikmati berbagai kegiatan seperti pertunjukan musik, pemutaran film, pameran poster kain, diskusi santai, hingga pasar kreatif pinggir sungai. Semua karya yang ditampilkan berasal dari para seniman lokal. Tidak ada panggung mewah, tidak ada lampu gemerlap yang berlebihan. Yang ada hanyalah alam, suara sungai, tenda-tenda sederhana, dan manusia-manusia yang datang untuk saling berbagi cerita.
Kegiatan dua hari tersebut mengangkat tema “Harinya Para Bladus.”
Kata Bladus sendiri menarik perhatian saya. Dalam bahasa sehari-hari, bladus sering dipahami sebagai sesuatu yang kusam, pudar, atau kehilangan kilau. Dalam istilah masyarakat Kaili, kondisi itu dikenal dengan sebutan Nasola (sesuatu yang telah melewati ruang dan waktu hingga tak lagi tampak baru) . Namun di tangan para penggagas Happy Kuk Day, makna itu diputarbalikkan menjadi sebuah filosofi perlawanan.
Di zaman hari ini, kita hidup dalam budaya yang selalu memaksa orang untuk tampil baru. Barang baru dianggap lebih bernilai. Pakaian baru lebih keren. Tempat baru lebih menarik. Bahkan manusia pun kadang dinilai dari seberapa “mengilap” penampilannya. Tanpa sadar, kita sedang hidup di tengah arus konsumerisme yang membuat segala sesuatu cepat dipakai lalu dibuang.
“Harinya Para Bladus” hadir seperti suara kecil yang menolak tunduk pada kilau semu itu. Mereka justru merayakan hal-hal yang dianggap kusam. Pakaian lama, barang bekas, kenangan lama, bahkan orang-orang yang sering dipandang sebelah mata oleh standar estetika modern. Bagi mereka, kusam bukan berarti usang. Kusam adalah tanda perjalanan. Kusam adalah bukti bertahan hidup.
Saya tertarik pada satu kalimat dalam poster itu:
“Bladus adalah keberanian untuk tidak menjadi baru di dunia yang terobsesi dengan pemborosan.”
Kalimat sederhana, tetapi terasa sangat relevan dengan kehidupan hari ini.
Happy Kuk Day seperti ingin mengingatkan bahwa kebermanfaatan tidak selalu lahir dari sesuatu yang besar dan mahal. Tidak perlu Nambaso untuk menjadi berarti. Kadang hal-hal kecil dan sederhana justru lebih jujur memberi manfaat bagi sesama dan lingkungan.
Mungkin itu sebabnya kegiatan ini dibuat di pinggir sungai, di tengah hutan buatan Desa Bale. Tempat yang jauh dari hiruk-pikuk kota. Tempat di mana orang bisa kembali mendengar suara alam dan suara dirinya sendiri.
Beberapa item kegiatan yang mereka siapkan pun terasa sangat membumi, Camping Pinggir Sungai, Musik Pinggir Sungai, Pasar Pinggir Sungai, Cinema Pinggir Sungai, Lingkar Pinggir Sungai, Pameran Poster Kain Pinggir Sungai, hingga Relaksasi, Adopsi, dan Rebelligius. Nama-namanya sederhana, tetapi justru di situlah letak daya tariknya. Tidak dibuat rumit, tidak dibungkus istilah asing yang berlebihan. Semua terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Bagi saya, Happy Kuk Day bukan hanya soal festival atau hiburan. Ia seperti sebuah ruang kecil untuk mengingat kembali bahwa hidup tidak harus selalu mengejar kemewahan. Bahwa seni tidak selalu membutuhkan panggung besar. Bahwa kebahagiaan kadang lahir dari duduk bersama di pinggir sungai, mendengar musik sederhana, menonton film bersama, lalu berbicara tentang kehidupan sampai malam datang perlahan.
Di tengah dunia yang semakin sibuk mengejar popularitas dan pencitraan, mungkin kegiatan seperti ini memang diperlukan. Sebuah ruang untuk berhenti sejenak, bernapas lebih pelan, dan kembali percaya bahwa kesederhanaan masih punya tempat di dunia yang serba instan ini.
Penulis: Azwar Anas

Posting Komentar