Jejak Sastra Lisan yang Hidup dalam Darah Orang Kaili


MEDIA KAILI
- Kemarin, Sabtu (1/8/26), telepon dari seorang sahabat, Riski Karisi, membawa saya kembali ke lorong-lorong masa kecil yang nyaris terlupakan. Percakapan yang awalnya ringan berubah menjadi perjalanan panjang menelusuri ingatan tentang permainan, kenakalan, hingga warisan budaya yang tanpa sadar kami hidupi sejak kecil sebagai anak-anak suku Kaili.


Riski membuka obrolan dengan kisah yang membuat saya tertawa. Ia mengenang masa ketika dirinya masih bocah. Seperti anak-anak pada umumnya, hari-harinya dipenuhi permainan bersama teman-teman sebaya. Namun, di balik tawa itu tersimpan kisah yang juga menguji adrenalin.


Suatu hari, ia membalas ejekan temannya. Dalam bahasa Kaili Ledo, tradisi saling membuli dengan pantun atau syair jenaka dikenal sebagai bakugara atau nosiova. Balasan yang dilontarkan Riski rupanya mengenai sasaran. Temannya tidak terima. Bukannya berhenti saling mengejek, keadaan justru memanas hingga Riski dikejar menggunakan parang. Kini, cerita itu menjadi kenangan yang mengundang gelak tawa, tetapi sekaligus menggambarkan betapa hidupnya tradisi saling berbalas syair di kalangan anak-anak Kaili tempo dulu.


Malam sebelumnya saya sebenarnya sudah dibuat heran. Riski tiba-tiba meminta saya mengingat kembali berbagai syair jenaka berbahasa Kaili yang dahulu sering digunakan untuk membuli teman. Saya bertanya, untuk apa semua itu?


Jawabannya cukup mengejutkan. Ia ingin menghidupkan kembali syair-syair lama tersebut melalui musik yang dibuat dengan bantuan kecerdasan buatan (AI). Tujuannya sederhana, tetapi bermakna, agar generasi sekarang tetap mengenal lagu-lagu jenaka yang dahulu begitu akrab di telinga anak-anak Kaili, namun kini mulai jarang terdengar.


Percakapan itu membuat saya menyadari satu hal yang mungkin luput dari perhatian banyak orang. Hampir semua anak Kaili pada masa itu memiliki kebiasaan yang sama. Ketika saling mengejek atau nosiova, mereka tidak asal mengucapkan kata-kata kasar. Bulian justru disampaikan melalui pantun, syair, atau lagu-lagu pendek yang sering kali mereka ciptakan sendiri secara spontan.


Bahkan dalam situasi yang paling sederhana sekalipun, kreativitas itu muncul. Misalnya ketika terdengar seseorang kentut, tetapi tidak ada yang mau mengaku sebagai pelakunya. Anak-anak biasanya langsung menyanyikan syair jenaka seperti berikut.


Sui-sui lale, lale kamboti nakanano...
Itu Topo otu dui kayaku rarana, Edu...


Lagu itu tentu bukan sekadar olok-olok. Ia menjadi bagian dari permainan sosial anak-anak yang dibalut humor. Tidak ada media sosial, tidak ada gawai, tidak ada video pendek. Yang ada hanyalah kreativitas merangkai kata, irama, dan tawa bersama.


Dari percakapan itulah diskusi kami kemudian berubah menjadi lebih serius. Kami sama-sama bertanya, dari mana sebenarnya asal-usul lagu-lagu jenaka yang kami nyanyikan semasa kecil itu? Siapa penciptanya? Mengapa hampir semua anak Kaili mengenalnya, padahal tidak pernah diajarkan secara resmi di sekolah ataupun ditulis dalam buku?


Pertanyaan itu membawa kami pada kesimpulan sederhana bahwa masyarakat Kaili sesungguhnya memiliki tradisi sastra lisan yang sangat kuat. Ia diwariskan bukan melalui ruang kelas, melainkan melalui kehidupan sehari-hari.


Tradisi itu bahkan hadir sejak seseorang baru membuka mata ke dunia. Ketika seorang bayi Kaili lahir, ia telah diperkenalkan dengan nompaova atau nompaowa, yakni nyanyian pengantar tidur yang dilantunkan saat bayi berada di dalam ayunan. Syair-syairnya berisi doa, harapan, dan kasih sayang orang tua. Tanpa iringan alat musik, lantunan itu mampu menenangkan bayi hingga terlelap.


Memasuki usia kanak-kanak, dunia sastra lisan berubah wajah. Anak-anak mulai mengenal nosiova, pantun dan lagu jenaka yang menjadi bagian dari permainan mereka. Di sinilah kemampuan berbahasa, berpantun, dan berimprovisasi diasah secara alami. Mereka belajar merangkai kata, menyindir tanpa harus menyakiti secara berlebihan, sekaligus melatih keberanian dan kecerdasan berbahasa.


Ketika dewasa, masyarakat Kaili memasuki ruang sastra lisan yang lebih matang melalui Vaino. Vaino merupakan salah satu bentuk puisi tradisional masyarakat Kaili yang dilantunkan secara bersahutan oleh dua kelompok. Tradisi ini telah dikenal sejak sekitar abad ke-17, seiring masuknya Islam ke wilayah Kaili.


Vaino tidak sekadar menjadi hiburan. Seni tutur ini hadir dalam berbagai upacara adat, mulai dari syukuran rumah baru, resepsi pernikahan (vaino randa kabilasa), hingga upacara kedukaan (vaino kamatea). Dalam suasana gembira maupun duka, vaino menjadi media untuk menyampaikan pesan, doa, penghormatan, serta nasihat kepada masyarakat, terutama generasi muda.


Secara bentuk, vaino memiliki kemiripan dengan pantun Melayu. Setiap bait terdiri atas empat larik. Dua larik pertama disebut Vuyana atau buyana sebagai pengantar, sedangkan dua larik terakhir merupakan kabotona yang memuat inti pesan. Rima yang digunakan cenderung berakhiran sama, dengan kekayaan bahasa berupa metafora, idiom, dan peribahasa. Pertunjukannya dilantunkan secara bersahutan antara kelompok perempuan (mombine) dan laki-laki (langgai), menciptakan dialog puitis yang sarat makna.


Jika dicermati, perjalanan hidup masyarakat Kaili seolah selalu ditemani sastra lisan. Bayi ditidurkan dengan Nompaowa. Anak-anak bermain dengan Nosiova. Orang dewasa menyampaikan maksud hati ataupun nasihat melalui Novaino. Bahkan dalam upacara kematian pun syair tetap hadir untuk mengenang mereka yang telah berpulang.


Inilah yang membuat saya meyakini bahwa sastra lisan bukan sekadar warisan budaya bagi masyarakat Kaili. Ia adalah cara hidup. Ia tumbuh bersama manusia sejak lahir hingga akhir hayat.


Mungkin selama ini kita terlalu sibuk mencari warisan budaya yang megah dan berwujud benda, padahal kekayaan terbesar justru hidup di dalam suara, lirik, dan ingatan kolektif masyarakat.


Cerita sederhana dari seorang sahabat tentang masa kecil yang pernah dikejar parang karena membalas bulian akhirnya mengingatkan saya pada sesuatu yang jauh lebih besar. Di balik tawa anak-anak Kaili tempo dulu, sesungguhnya tersimpan sebuah tradisi sastra yang luar biasa. Tradisi itu tidak diajarkan melalui buku pelajaran, tetapi diwariskan dari mulut ke mulut, dari generasi ke generasi, hingga menjadi bagian dari identitas orang Kaili.


Kini, ketika teknologi mampu menghidupkan kembali syair-syair lama melalui kecerdasan buatan, tantangan terbesar bukan lagi bagaimana menciptakan lagu baru. Tantangannya adalah memastikan agar suara-suara lama itu tidak ikut hilang ditelan zaman. Sebab selama masih ada yang menyanyikannya, sastra lisan Kaili akan tetap hidup.





Penulis: Azwar Anas

Lebih baru Lebih lama