Sekolah Budaya Bulava Nusantara Hadir di Perbukitan Kalora Sigi



MEDIA KAILI – Sebuah mimpi besar untuk melestarikan identitas bangsa kini mulai menampakkan wujudnya. Yayasan Bulava Nusantara Permai (YBNP) secara resmi memulai pembangunan Sekolah Budaya, sebuah institusi pendidikan non-formal yang berlokasi di Desa Kalora, Kecamatan Kinovaro, Kabupaten Sigi.


Berada di kawasan pegunungan sebelah barat Lembah Palu yang berbatasan langsung dengan Kota Palu, sekolah ini tidak hanya menawarkan pemandangan alam yang indah, tetapi juga visi besar untuk menjadi pusat peradaban baru di Sulawesi Tengah.


Pembangunan ini merupakan agenda lama Yayasan Bulava Nusantara Permai yang akhirnya terealisasi berkat dukungan Dana Hibah Pemerintah Kabupaten Sigi melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.


Direktur Yayayasan Bulava Nusantara Permai sekaligus sebagai ketua pelaksana pembangunan, Ince Rahma Borahima, S.Sos., menegaskan bahwa kehadiran sekolah ini sangat krusial di tengah gempuran modernisasi.


"Sekolah ini adalah benteng kebudayaan dan pilar utama dalam menanamkan karakter bangsa kepada generasi harapan kita. Kami hadir untuk membantu pemerintah daerah maupun pusat dalam menjaga marwah budaya lokal," ujar Ka Ole Sapaan akrab Ince Rahma.


Fasilitas dan pengembangan kawasan Sekolah Budaya Yayasan Bulava Nusantara Permai dirancang di atas lahan seluas 3.800 meter persegi sebagai kawasan terpadu yang mengintegrasikan fungsi edukasi, seni, dan ruang publik. 


Rencana pengembangan ke depan mencakup pembangunan galeri seni dan budaya, ruang pertunjukan serta amfiteater, penginapan khusus bagi seniman dan budayawan dari luar daerah, serta area pesta rakyat yang dapat dimanfaatkan masyarakat umum untuk berbagai kegiatan seni yang relevan. 


Sekolah budaya ini juga dikembangkan sebagai ruang edukasi inklusif melalui program kelas literasi budaya untuk pendalaman nilai-nilai filosofis, adat istiadat, dan sejarah lokal yakni workshop seni pertunjukan yang meliputi pelatihan tari tradisional, musik etnik, dan teater rakyat, juga sebagai pusat konservasi bahasa sebagai upaya pelestarian bahasa daerah bagi generasi muda serta edukasi kriya dan kuliner melalui pelatihan pembuatan kerajinan tangan dan panganan tradisional.


Sekolah ini menyasar anak-anak usia sekolah sebagai tunas bangsa, pemuda-pemudi pemerhati budaya, serta masyarakat umum yang ingin mendalami nilai-nilai luhur Sulawesi Tengah.


Pihak YBNP menargetkan pembangunan fisik selesai pada akhir tahun ini, sehingga pada tahun depan (2027) sekolah sudah dapat mulai beroperasi. Saat ini, YBNP tengah aktif merekrut SDM kompeten untuk menyusun kurikulum dan materi ajar yang relevan.


Dalam waktu dekat, Direktur YBNP juga dijadwalkan akan menghadap Menteri Kebudayaan untuk mempresentasikan program kerja sekaligus mengundang secara resmi untuk peresmian (launching) sekolah ini.


Direktur YBNP juga membuka pintu lebar-lebar bagi para donatur dan pemerhati budaya yang ingin berkontribusi. Ia juga memohon doa restu dari seluruh masyarakat Sulawesi Tengah agar pembangunan ini berjalan lancar.


"Dukungan pemerintah perlu ditingkatkan di sektor kebudayaan agar bersinergi dengan program kami. Mari kita bangun bersama masa depan Sulawesi Tengah melalui pendidikan berbasis budaya," tutupnya.




Penulis: Smith Lalove

Post a Comment

To be published, comments must be reviewed by the administrator *

Lebih baru Lebih lama