MEDIA KAILI – Kelompok musik Regendate menghadirkan warna baru di blantika musik Kota Palu dengan memadukan tradisi Dade Ndate khas Kaili dan irama reggae modern. Melalui konsep tersebut, mereka berupaya mengangkat kembali nilai-nilai lokal ke panggung musik kekinian.
Salah satu inisiator Regendate, Yoyo, mengatakan grup tersebut tidak sekadar mengikuti tren musik reggae, melainkan mencoba membangun arus baru dengan kembali pada akar budaya sendiri.
“Kami mencoba membuat arus baru dengan menggali tradisi yang sudah ada,” ujar Yoyo.
Regendate mengusung filosofi “Penganut Bunyi Spiritual” yang diperkenalkan oleh gitaris Adi Pakinde. Konsep ini menekankan bahwa musik bukan hanya hiburan, tetapi juga medium yang memiliki nilai dan pengaruh terhadap pembawaan diri seseorang.
Melalui lagu bertajuk “Limbayo”, vokalis Empe menyisipkan narasi dan pesan lokal dalam balutan musik reggae. Aransemen musik diperkuat oleh Bayu pada mbasi-mbasi serta Uun pada drum yang menjaga ritme tetap selaras dengan nuansa etnik.
Uun menilai reggae memiliki kesamaan spirit dengan tradisi Dade Ndate, yakni nyanyian tutur khas Sulawesi Tengah yang dapat dimainkan dalam durasi panjang serta melibatkan interaksi spontan antara penampil dan penonton.
“Reggae tidaklah asing bagi kami. Ada kultur kami dalam bunyi itu,” kata Uun.
Dalam perjalanannya, Regendate memilih membangun kemandirian dengan menciptakan ekosistem ekonomi internal. Selain bermusik, mereka menjual produk kopi, kaos, dan cinderamata untuk mendukung rencana tur lintas Sulawesi hingga Pulau Jawa pada tahun ini.
Kelompok ini juga memperkenalkan istilah “Limbayoser” bagi para pendukungnya sebagai bentuk kedekatan dan persaudaraan yang terbangun melalui kesamaan frekuensi musik.
Penampilan perdana mereka telah diuji dalam ajang Reuni Mogimba Reggae di Hutan Kota Palu, Sabtu (7/2). Pada kesempatan itu, Regendate berbagi panggung dengan Mogimba, salah satu kelompok reggae senior di Kota Palu.
Penulis: Smith Lalove

Posting Komentar