Transformasi Danau Lindu, Padukan Ketahanan Pangan dan Mina Wisata


MEDIA KAILI – Danau Lindu kini tidak hanya menjadi ikon wisata alam Sulawesi Tengah, tetapi juga diarahkan sebagai pusat pengembangan ketahanan pangan berbasis perikanan. Pemerintah Kabupaten Sigi meluncurkan program budidaya ikan terintegrasi dengan menebar 15.000 ekor benih ikan nila di Danau Lindu, Senin (9/2).


Program ini merupakan hasil kolaborasi Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Sigi, BUMDes Tomado, dan Komunitas Penggerak Pemberdayaan Perikanan Darat (P3D). Sebanyak delapan petak Keramba Jaring Apung (KJA) berukuran 4×4 meter telah disiapkan sebagai sarana budidaya perikanan darat yang berkelanjutan.


Ketua Komunitas P3D, Jackson, mengatakan program tersebut tidak hanya berfokus pada penebaran benih, tetapi juga pada pembangunan sistem budidaya yang ramah lingkungan dan berjangka panjang. Masyarakat setempat mendapatkan pendampingan mulai dari manajemen pakan hingga pengelolaan limbah hasil budidaya.


“Kami memastikan usaha ini berkelanjutan. Pengelolaan limbah menjadi kunci agar ekosistem Danau Lindu tetap terjaga, sementara pendampingan pemasaran bertujuan agar hasil panen masyarakat terserap langsung oleh pasar,” kata Jackson.


Dari sektor pariwisata, Ketua Asosiasi Travel dan Agen Indonesia (ASTINDO) Sulawesi Tengah, Budi Papeo, menilai Danau Lindu memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi Mina Wisata. Menurutnya, integrasi perikanan dan pariwisata dapat menjadi daya tarik baru bagi wisatawan.


Namun demikian, Budi mengingatkan pentingnya penataan visual dan keberlanjutan lingkungan. Ia menilai desain keramba harus memiliki nilai estetika agar tidak merusak keindahan alam danau.

“Keramba perlu ditata dengan konsep berbasis budaya agar tidak terkesan kumuh. Jika dikelola secara artistik, momen panen bahkan bisa menjadi atraksi wisata tahunan,” ujarnya.


Sementara itu, Kepala Bidang Budidaya Perikanan Kabupaten Sigi, Abdul Gafur, menyatakan keberhasilan program di Danau Lindu akan dijadikan model pengembangan ekonomi desa yang terintegrasi dengan program pemerintah pusat, termasuk swasembada pangan dan Program Makan Bergizi Gratis.


“Ikan nila dipilih karena pertumbuhannya cepat dan mudah dibudidayakan. Kami ingin Danau Lindu menjadi sumber protein bagi masyarakat sekaligus pusat edukasi konservasi yang bernilai ekonomi,” kata Abdul Gafur.


Dengan pengawasan rutin serta edukasi lingkungan kepada masyarakat, program ini diharapkan mampu membuktikan bahwa penguatan ekonomi dan pelestarian alam dapat berjalan seiring di Kabupaten Sigi.




Penulis: Smith Lalove

Post a Comment

To be published, comments must be reviewed by the administrator *

Lebih baru Lebih lama