Karena Nila Setitik, Rusak Susu Sebelanga: Menyikapi Polemik Restocking Ikan Nila di Danau Poso

 


OLEH: JACKSON
Ketua Penggerak Pemberdayaan Perikanan Darat (P3D)

MEDIA KAILI - Peribahasa “karena nila setitik, rusak susu sebelanga” menjadi pengingat penting dalam menyikapi polemik kegiatan restocking atau penebaran benih ikan nila di Danau Poso, Sulawesi Tengah. Kebijakan yang bertujuan baik tetap harus mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap kelestarian lingkungan dan kehidupan masyarakat.

Danau Poso bukan hanya sumber penghidupan masyarakat, tetapi juga ekosistem yang memiliki kekhasan dan kekayaan ikan lokal serta endemik yang perlu dilindungi. Karena itu, setiap kegiatan penebaran ikan harus didasarkan pada kajian ilmiah, kesesuaian jenis ikan, daya dukung lingkungan, serta ketentuan peraturan yang berlaku.

Niat meningkatkan populasi ikan dan mendukung ekonomi masyarakat tentu dapat dipahami. Namun, keberhasilan restocking tidak cukup diukur dari banyaknya benih yang ditebar. Dampaknya terhadap keseimbangan ekosistem dan keberlanjutan populasi ikan lokal juga harus menjadi perhatian utama.

Di sisi lain, polemik ini tidak boleh menimbulkan stigma bahwa ikan nila dan seluruh usaha budidayanya merupakan ancaman bagi lingkungan. Perlu dibedakan antara pelepasan ikan ke perairan umum dan budidaya ikan nila di kolam yang dikelola secara terkendali.

Pembudidaya ikan nila telah menginvestasikan modal, tenaga, dan waktu untuk mendukung ketersediaan pangan serta menggerakkan ekonomi masyarakat. Oleh karena itu, perlindungan Danau Poso harus berjalan beriringan dengan kepastian dan keberlanjutan usaha para pembudidaya.

Pemerintah, akademisi, pembudidaya, dan masyarakat perlu duduk bersama untuk mengevaluasi kegiatan penebaran tersebut secara transparan. Jika ditemukan risiko ekologis yang signifikan, langkah korektif harus dilakukan berdasarkan hasil kajian dan ketentuan yang berlaku. Pada saat yang sama, pengembangan budidaya ikan nila di fasilitas terkendali tetap perlu didukung.

Sebagai Ketua Penggerak Pemberdayaan Perikanan Darat (P3D), saya memandang polemik ini sebagai momentum untuk membangun kebijakan perikanan yang berimbang, berbasis ilmu pengetahuan, dan memperhatikan kepentingan seluruh pihak.

Danau Poso harus tetap lestari, ikan lokal dan endemik harus terlindungi, dan pembudidaya ikan nila harus tetap memiliki kesempatan untuk berkembang.

Sebab, keberhasilan pembangunan perikanan bukan hanya tentang meningkatkan produksi hari ini, melainkan juga menjaga kelestarian sumber daya alam dan keberlanjutan ekonomi masyarakat untuk masa depan.

Lebih baru Lebih lama