MEDIA KAILI — Kepala Badan Pengendalian dan Pengawasan Mutu Hasil Kelautan dan Perikanan (BPPMHKP) Palu, M. Roy Pahlavi, S.PKP., menyambut positif kegiatan penebaran dan penyerahan bantuan benih ikan kepada kelompok pembudidaya di lokasi POKDAKAN Ikan Berkat Balkes Roviga Desa Sibedi Kecamatan Marawola, Kabupaten Sigi, pada Jumat (18/09/2026).
Menurut Roy, kegiatan tersebut memiliki nilai strategis karena mempertemukan kelompok pembudidaya dengan pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan dalam upaya mengembangkan sektor perikanan air tawar.
Namun, ia mengingatkan bahwa keberhasilan pengembangan budidaya ikan tidak hanya diukur dari ketersediaan benih dan peningkatan produksi. Aspek mutu, keamanan, standar, serta daya saing hasil perikanan juga perlu menjadi perhatian sejak awal proses budidaya.
“Kami melihat kegiatan ini sebagai langkah positif dalam membangun dan mengembangkan potensi perikanan air tawar. Tetapi yang tidak kalah penting adalah bagaimana hasil budidayanya nanti memenuhi aspek mutu dan keamanan, sehingga produk yang dihasilkan memiliki nilai tambah dan daya saing,” ujar Roy.
Selain itu, Roy mengatakan mutu hasil perikanan tidak seharusnya baru diperhatikan ketika ikan memasuki tahap panen. Menurut dia, mutu harus dibangun sejak proses budidaya berlangsung.
Karena itu, pembudidaya perlu memahami praktik budidaya yang baik, penggunaan sarana produksi secara tepat, pengelolaan lingkungan kolam, kesehatan ikan, hingga penanganan hasil setelah panen.
Hal tersebut dinilai penting bagi kelompok pembudidaya yang ingin mengembangkan usaha dari skala kelompok menuju usaha yang lebih profesional dan memiliki akses pasar yang lebih luas.
“Mutu itu harus dibangun dari awal, mulai dari kolam sampai penanganan setelah panen. Kalau prosesnya baik, maka peluang menghasilkan produk yang bermutu, aman dan memiliki daya saing juga semakin besar,” jelasnya.
Menurut Roy, perhatian terhadap mutu juga berkaitan dengan kepercayaan konsumen. Produk perikanan yang ditangani dengan baik sejak budidaya hingga pascapanen memiliki peluang lebih besar untuk memenuhi kebutuhan pasar dan memberikan nilai tambah bagi pembudidaya.
Sebagai bagian dari penguatan ekosistem perikanan air tawar, BPPMHKP Palu membuka ruang kolaborasi dengan POKDAKAN Ikan Berkat Balkes Roviga, P3D, Dinas Kelautan dan Perikanan, pemerintah daerah, pemerintah desa, serta pemangku kepentingan lainnya.
Kolaborasi tersebut, kata Roy, dapat diarahkan pada edukasi mengenai mutu dan keamanan hasil perikanan, termasuk pendampingan bagi kelompok pembudidaya dalam memahami praktik budidaya yang baik.
Selain itu, penguatan kapasitas pembudidaya dapat dilakukan melalui bimbingan teknis, konsultasi, dan peningkatan pengetahuan mengenai mutu serta penanganan hasil perikanan.
Kelompok yang telah memenuhi kesiapan juga dapat diperkenalkan dengan berbagai persyaratan dan mekanisme sertifikasi yang relevan dengan kegiatan budidaya mereka.
Aspek pascapanen turut menjadi perhatian. Penanganan ikan setelah dipanen perlu dilakukan dengan baik agar mutu produk tetap terjaga hingga sampai kepada konsumen.
Menurut Roy, kerja sama antarpemangku kepentingan juga diperlukan untuk membangun jejaring yang menghubungkan aspek mutu dengan produksi, pembiayaan, pengolahan dan pemasaran.
Roy juga mengatakan pengembangan perikanan air tawar perlu memperhatikan keseimbangan antara peningkatan produksi dan kualitas hasil.
“Harapannya bukan hanya bagaimana ikan yang dibudidayakan semakin banyak, tetapi bagaimana ikan tersebut memiliki mutu yang baik, aman dikonsumsi dan memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi. Itu yang harus kita bangun bersama,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi semangat P3D dan POKDAKAN Ikan Berkat Balkes Roviga yang menempatkan keberlanjutan sebagai bagian penting dalam pengembangan program pemberdayaan.
Menurutnya, kolaborasi akan lebih efektif apabila setiap pihak menjalankan peran sesuai tugas dan kapasitas masing-masing.
“Kami siap berkolaborasi sesuai dengan tugas dan fungsi BPPMHKP. Dari sisi kami, penguatan mutu, keamanan dan standar hasil perikanan menjadi bagian yang penting. Sementara aspek produksi, pemberdayaan, pembiayaan dan pemasaran dapat diperkuat oleh stakeholder lainnya,” kata Roy.
Melalui kerja sama tersebut, diharapkan terbentuk rantai usaha perikanan air tawar yang saling terhubung, mulai dari penyediaan benih, proses budidaya, pendampingan, pengendalian mutu, panen, penanganan hasil hingga pemasaran.
Bagi BPPMHKP Palu, penguatan mutu bukan hanya berkaitan dengan pemenuhan persyaratan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga kepercayaan konsumen, meningkatkan nilai tambah produk, dan memperluas peluang pasar bagi pembudidaya.
“Kalau kita ingin perikanan air tawar berkembang dan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat, maka produksi dan mutu harus berjalan bersama. Kolaborasi seperti ini perlu dijaga dan dikembangkan secara berkelanjutan,” pungkas Roy.
Penulis: Smiet Lalove
